Posted by: icalmahdi | September 30, 2008

Sebuah Epilog

EPIFORA KESEDIHAN DAN HARAPAN


Kemuliaannya telah berlalu..
Gemerlapnya baru saja beranjak pergi..
Sang cenayang takkan bisa tau akankah kita berjumpa lagi..
Memang menjadi sebuah enigma yang tak pasti

Pernah dalam suatu waktu epifora itu mengalir di pipi
Sedikit menggoreskan tabir hati
Merasa kecil atas penghambaan ini
Apalagi saat kudengar lantunan doa memukau lagi
Di sepertiga malam ku yang sendiri

Aku sedih karena kawan terbaikku kan pergi
Pranalanya sudah tak lagi bisa ku nikmati
Oh kawanku akankah kau kembali…Bersamaku menari lagi…
Itulah kesedihanku kini

Namun,

Esok ada pula yang datang
membawa secercah harapan
penuh maaf, penuh berkah, penuh riang
Takbir-takbir melayang ke angkasa menerima kawan
Banyak sekali yang baru..
fadihat-pun belum bermunculan
..Kuharap jangan..

Ku siap menyongsongnya wahai kawan
Itulah harapanku kini

———————————————————————————-

GLOSARIUM
epifora – air mata
enigma – misteri
fadihat – nista, noda, aib
pranala – tautan kaitan
cenayang – kemampuan seseorang dapat melihat hal yang gaib terutama hal-hal yang akan terjadi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: