Posted by: icalmahdi | September 22, 2008

Surat Untuk Adikku Tersayang…

Adikku tersayang

Bagaimana kabarmu adik..? hati ini terus saja merindukanmu dik. Ku merindukan sesosok jiwa muda yang senantiasa hadir di tepian cakrawala pagi. Dengan semangat yang utuh. Mencoba menggelayuti di setiap desis langkahmu. Ku juga terus berharap kondisi adik dalam keadaan sehat walafiat. Tidak hanya kondisi fisik adik. Namun juga dalam kondisi terjaga jiwanya. Sebagaimana kita pertama kali bertemu. Adikku, dalam surat ini aku hanya ingin menyampaikan apa yang senantiasa muncul di pikiran. Ada perasaan yang selalu bercampur aduk. senang dan sedih. Keyakinan dan keraguan, keoptimisan dan ketakutan. Ku mencoba menuangkannya. Meskipun hanya beberapa paragraf coretan.

Adikku tersayang

Ada sebuah rasa kagum ketika melihatmu berjalan tegap dengan tas ransel di punggung. Ada sebuah guncangan kebanggaan yang terjadi di benak ketika ku memandang seragam pramuka yang lusuh itu masih melekat di tubuh mungilmu. Keringat yang mengalir di pipi lesungmu mengingatkan ku pada apa yang pernah ku alami dulu. Senja yang menari-nari di kerlingan langit tak sanggup pula menahan ketakjuban hamazahmu tuk hadir di jalan ini. Sebuah jalan menelikung, penuh aral, rintangan, onak dan duri.

Adikku tersayang

Ada aura perubahan ketika kau mengucap salam padaku dik.. Wa’alaykumussalam.. Itu yang mungkin hanya bisa kujawab. Tak ada yang lain. Ku pun tak bisa mengungkapkan kesukacitaan hati ini saat tatapan mata kita bertemu. Ada harapan di matamu dik.. Ada sinar muda yang siap menjadi cahaya cemerlang dari lensa kecilmu itu. Ku kembali menggetarkan jantungku. Banyak yang sesungguhnya ingin keluar dari pita vokal ini. Kau insan hebat adikku. Sungguh sangat hebat..

Adikku tersayang

Di saat rekan-rekan mu yang berputih abu-abu itu asyik dengan hobi-hobi kecilnya, di waktu sahabat-sahabat karib di bawah atap sekolahmu itu bersenandung akan cita-cita khayalan mereka, di kala itu semua, ku kembali terkagum dik. Kau sungguh memiliki impian yang fantastik. Jarang pemuda yang bisa membayang impian seperti itu. Kau memikirkan hidup dik.. ya.. kau sering memikirkannya. Bahkan saat kau membaca surat ini, kau sedang memikirkan hidup itu dik.. Sebuah kehidupan yang tak pernah berujung. Kehidupan akhirat. Dan tentu saja kau memilih surga.. Ehmm.. Fantastik bukan..?

Adikku tersayang

Pernahkah kau melihat air sungai yang mengalir. Airnya yang jernih. Yah.. sejernih usiamu yang belia. Sungai itu membawa banyak kehidupan. Ikan, tanaman belukar, tumbuhan mengapung, semuanya ceria hidup di sana. Engkaulah sungai itu dik. Aliranmu bisa membuat kehidupan. Apa saja yang kau lewati, semua tersenyum padamu. Semua mengharapkan aliranmu. Kebaikan pun kau tebar ke manapun saja. Semakin panjang aliran yang kau arungi, semakin panjang pula pesona kebaikan yang kau tebar. Pernah kah terbayang jika aliran itu berhenti. Yahh.. berhenti tanpa ada gelombang. Atau pernah terbayang juga jika air dalam aliran itu keruh.

Oleh karena itu, Adikku tersayang

Kadang kala aku berpikir. Sesuatu yang mungkin seharusnya jangan kupikirkan. Sebuah rangkaian pikiran yang menghasilkan pertanyaan membayang. Terus dan terus membayang. Bayangan yang juga seharusnya tak usah kubayangkan. Namun tak bisa dik. Pertanyaan itu selalu muncul saja.

“tidakkah kau terlalu muda menggenggam amanah ini wahai adikku tersayang?”. Sempat ku beristighfar. Seharusnya lintasan akal ini tak mampir ke benakku. Ku sudah kagum atas aktivitas cemerlangmu. Bahkan terlalu kagum. Atau mungkin karena sangat kagumnya ku lupa menoleh ke sisi yang sesungguhnya juga patut ku lihat. “tidakkah kau terlalu muda menggenggam amanah ini wahai adikku tersayang?”.. Rasulullah pun harus menunggu usianya berkepala empat sebelum mendapat amanah dhasyat ini. Akan tetapi usiamu benar-benar masih hijau dik. Masih belasan bahkan. Itulah keraguanku. “tidakkah kau terlalu muda menggenggam amanah ini wahai adikku tersayang?”

Adikku tersayang

Sempat pula ku terbayang. Pernah kupandang kondisi yang berbeda darimu dik. Meski jarang, kerap kali kumelihatmu beda. Di tengah keceriaan mu, kadang kala kau menympan ketidak seriusan. Tawa canda yang terlontar darimu sunguh asyik untuk dinikmati. Namun, ingatlah wahai adikku. Jalan dakwah ini tak mengenal ketidak seriusan. Aktivitas dakwah ini pun tak mengenal canda tawa yang tersiakan. Memang engkau masih muda dik. Sudah selayknya kau terbiasa dengan yang seperti itu. Tapi ingatlah taukah kau berapa kali Rasulullah bergurau. Berapa kali pula Rasulullah pernah melontarkan canda yang tak bermakna. Sekali lagi dik, amal dakwah tak akan berbuah dari usaha yang tidak serius.

Adikku tersayang

Untuk memikul dan memandu beban yang sangat berat ini, kesitiqomahan adalah hal yang mutlak keberadaanya. Tanpanya amanah dakwah ini hanyalah sebagai aksi insidental belaka. Tak berlanjut, tak ada episode berikutnya. Berhenti seketika, di saat keistiqomahan itu hilang. Aku takut dik.. Aku takut keistiqomahanmu hanya di bibir saja. Astaghfirullah… Aku tahu ini sebuah prasangka buruk dik. Tapi entah mengapa ini terlintas saja di pikiranku.. Aku sudah melihat yang lainnya berlaku sama. Sering bahkan. Istiqomah yang palsu. Awal dakwah yang manis, penuh semangat, tidak pernah berakhir dengan cantik. Langkahnya tak pernah mencapai garis finish. Mereka aktivis yang pengecut.

Adikku yang kusayang

Aku tak ingin adikku yang kucinta ini seperti itu. Teguhlah dik. Kuatlah dik. Bertahanlah dik.. Jalan dakwah mustahil dipenuhi dengan kenyamanan. Jalan dakwah juga mustahil dihiasi canda gurau rendahan. Ini adalah jalan Allah. Jalan yang mulia, jalan yang suci. Akankah hanya kita lalui tanpa sebuah prestasi yang membanggakan.

Adikku yang kusayang

Atas kerendahan hatimu aku berucap beribu terima kasih. Jazakumullah khoiron katsiron. Jujur dik, aku sungguh tak mengindahkan segala kekuranganmu. Karena apa.. Karena ku yakin pasti kelebihanmu jauh lebih menjulang. Banyak potensi yang belum kau curahkan untuk kebaikan ini dik.. Sekali lagi ku yakin atas itu.. Bangkitkan potensimu.

Adikku…

Sudah saatnya tongkat estafet amanah ini beralih ke tangan mu. Sudah saatnya kita bersama-sama berlari secepat mungkin. Jangan hiraukan bisikan-bisikan tak bermutu dari mulut syaitan. Kita harus mengejar waktu. Segeralah berubah dik.. segeralah menuju kemenangan dik. Di sekolahmu telah menunggu. Sekelompok pemuda pula yang siap menerima keteladananmu sebagai seorang da’i. Sebagai agen perubah. Sebagai generasi penerus risalah. Tebarlah pesona di manapun kau berada. Pesona kebaikan, pesona kebenaran dan tentu saja pesona Surga. Semoga kita dipertemukan bersama dengan Allah dengan kondisi wajah ceria tersenyum.. Subhanallah..

————————————————————————

(Disampaikan di Dauroh Tarqiyah.. Ramadhan Student Camp 1429 H. dengan sebuah iringan nasyid berjudul “AJARI AKU”-Suara Persaudaraan)

(Kutulis dengan sebuah harapan… Harapan yang besar terhadap azzam para penerus risalah)


Responses

  1. wah..panjang.. cuma baca setengah.. gak kuat bacanya ampe abis..😀
    afwan..

  2. wah bagus banget isinya, menggugah.. semoga surat ini benar2 tersampaikan

  3. @ arinkusayang :

    hehe.. sama..
    pas mbuat juga rada’ gak kuat..

    @ aRuL :

    alhamdulillah tersampekan koq. smga aja bermanfaat untuk adiknya..:)

  4. Wah….,

    Keren tulisanmu Sal.
    Mantab!

    Jadi ingat saran Imam Hasan Al Banna agar da’i juga belajar sastra. Biar omongannya indah.😀

  5. @ agung :
    Terima KAsih Gung..!!!

  6. terima kasih atas tulisan ini😀

  7. subhanallah adikku yang satu ini..😀
    ‘afwan kemarin ga sempat ketemu di surabaya. Saya balik cepat ke bandung soalnya. Salam buat ikhwah uswah ya.. gut lak!

  8. @ Dalila Sadida :
    Trims juga..

    @ armyalghifari :
    Iya Bang…
    kapan hari temen2 bilang antum mampir ke USwah..
    Insya Allah..

    Muga2 cepet sukses..(apa jangan-jangan udah sukses ya..??)

  9. hhmmmm…. ;))

  10. pernahkah terpikir, bahwa tulisan ini dibaca sang adik?

    pasti senang…

  11. @ yuda harja :

    ehhmm..!!!

    @ kafhayaainshad :

    bahkan sudah ada yang berkaca-kaca..

  12. ada blsn surat dr adeknya nggak mas? Hehe

  13. @ sarahtidaksendiri :

    belum nih..
    Tapi masih menunggu balasan berupa perbuatan..🙂

  14. hmm…adeku masih umu4 tahun 8)

  15. ini adik secara global kh ? atau adik dalam katagori khusus nih ?

    wah , , katagori adek yg masuk dalam puisi mas ical ini pasti mantap abis dah .😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: