Posted by: icalmahdi | August 21, 2008

I CAN DO BETTER

Ketika kita baca tulisan ini, cobalah tuk sejenak alihkan perhatian pada apa yang kita perbuat satu tahun yang lalu. Kita nikmati kembali suasana penuh haru itu. Kita reccall kembali bilik memori yang sempat terisi dengan aktivitas-aktivitas fenomenal penuh prestasi itu. Satu bulan penuh tak hanya kita tahan dengan lapar dan haus. Tak hanya menahan pandangan atas rupa yang cantik nan tampan. Tak hanya membisu akan frase-frase tak berisi. Dan tak hanya pula pikiran ini melayang ke angan tanpa ada makna secuil pun. Ada sebuah hikmah  yang duduk tersembunyi di baliknya.

Coba kita meluncur kembali ke segmen waktu penuh berkah itu. Masing-masing dari kita pasti punya kisah yang beragam. Ukiran prestasi demi prestasi yang terpahat bukan sebuah hal yang terjadi begitu saja. Waktu satu bulan untuk menghabiskan satu-dua  jus, bergadang dengan ditemani sehelai sajadah, berucap beribu doa, mulai dari doa favorit kita, hingga doa yang belum pernah sekalipun keluar dari bibir. Semua itu terhiasi begitu cepat dalam fragmen Ramadhan. Yah.. hanya di fragmen itu. Bukan di bulan yang lain.

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dan bathil. Karena itu, barang siapa di antara kamu berada di bulan itu, maka berpuasalah. …  ”
(QS. Al-Baqarah 185)

Ada hawa khas yang muncul ketika kita melangkah di bulan indah itu. Semuanya tampak dan terasa berbeda. Entah mengapa semua amalan terasa ringan untuk dikerjakan. Mari kita ingat bersama, Ada energi khusus yang mendorong kita untuk berpahala sebanyak mungkin. Situasi lingkungan juga kondusif dalam pendukungan aktivitas ruhiyah kita. Pergi ke mushola kampus, ada kontes tilawah. Pergi sholat tarawih, seperti merasakan sholat Jumat.  Mau pergi i’iktikaf, sama seperti ingin pergi rihlah,  janjian dulu dengan orang banyak, bawa bekal. Dan ketika sampai tempat tujuan, “wahana wisata” yang kita kunjungi telah penuh dengan “pelancong”. Sekali lagi, pemandangan seperti ini terus akan kita nikmati acap kali kita hadir di tengah kegemerlapan Ramadhan.
 Tanpa disadari, sesunguhnya kita terus-menerus melewati sebuah koridor rutinitas tahunan bernama Ramadhan. Tak sedikit orang yang memaknai bulan suci ini hanya sebagai sebuah perhelatan tahunan belaka. Memang ada yang spesial di bulan ini. Banyak obral pahala, banyak diskon dosa, hingga doorprize bernama “malam lailatul qodar” terus diperebutkan oleh kebanyakan dari kita. Namun, kita terlalu sering memperbandingkan kehebohan Ramadhan ini dengan bulan-bulan yang lain. Syawal dengan puasa 6 harinya, Rabiul Awal dengan Mauludnya, Rajab dengan Isra’-Mi’rajnya, dan Dhulhijjah dengan Ibadah Hajinya. Memang Ramadhan jauh lebih “prestige” di banding kawan-kawannya yang lain. Jauh lebih bergengsi daripada bulan yang lain meskipun bulan lain telah memiliki kemuliaan tersendiri. Oleh karenanya doa Rasulullah telah diperdengungkan ketika awal Rajab. “Allahumma bariklana fi Rajab wa Sya’ban wa Balighna fi Ramadhan”. Hanya untuk menemui bulan penuh sensasi ini. Ramadhan yaa Sahrur Tarbiyah.

 Akan tetapi, ada sebuah perbandingan yang wajib kita perhatikan. Bukan antara sesama bulan di tahun Hijriyah. Melainkan perbandingan antar sesama Ramadhan. Yaitu antara Ramadhan sekarang, dengan Ramadhan yang lalu. Antara Ramadhan yang lalu dengan Ramadhan dua tahun yang lalu. Begitu seterusnya. Jika kita mau sadar dan memperhatikan dengan seksama. Kadang kala kita hanya terjebak dalam sekat rutinitas tahunan ini. Memang, kita menganggap bulan ini istimewa ketimbang bulan yang lain. Tetapi apakah bulan Ramadhan kali ini sudah kita persiapkan istimewa menandingi keistimewaan bulan Ramadhan yang pernah kita lalui bersama tahun silam. Apakah Ramadhan sekarang akan kita suguhkan dengan hiasan-hiasan amalan yang belum tentu tahun lalu kita bisa meraihnya.

 Itulah motivasi yang terkandung dalam do’a ajaran Rasulullah di atas. Kita sungguh mengharap pertemuan dengan Ramadhan akan kembali terwujud. Iringan pertemuan itu adalah berupa motivasi untuk memperbaiki amalan yang belum sempurna. Motivasi untuk memahat sebuah ukiran prestasi yang mungkin belum sempat kita lakukan pada Ramadhan lalu. Inilah sesungguhnya inti dari proses tarbiyah itu. Ada tujuan sebuah kesempurnaan, ada motivasi untuk merubah ke arah lebih baik dan ada kesungguhan yang tertancap dalam hati seorang insan.

 Entah apa yang kita perbuat pada Ramadhan yang lalu. Masing-masing dari kita punya goresan kisah tersendiri. Dan goresan itu kini telah berada pada Sang Pemilik kita, Allah azza wa jala. Namun, goresan Ramadhan berikutnya belum kita torehkan. Masih berupa kertas-kertas putih dalam halaman buku yang sampulnya masih juga tertutup. Kita sekarang sedang memegang pensil-nya. Pensil yang terus-menerus kita tajamkan, kita lancipkan, dan kita kuatkan agar tidak cepat patah. Sehingga ketika sampul buku Ramadhan itu terbuka. Tangan kita telah siap menggoreskan tulisan-tulisan terbaik sepanjang masa. Berbeda dengan yang lalu, lebih indah, lebih cantik dan lebih mempesona.. Allahu Akbar.

 Ketika kita baca paragraf terakhir ini. Coba kembali kita alih perhatian kita. Bukan pada episode Ramadhan lalu. Namun pada sekuel Ramadhan berikutnya. Lihatlah waktu..!! Berapa hari lagi.?, Berapa Jam lagi.?, atau berapa menit lagi.?, Selamat membuat goresan terindah di Ramadhan yang baru.


Responses

  1. Tak terasa, rupanya satu tahun sudah berlalu. Salam kenal.

  2. @ Rafki RS ;
    Salam kenal juga..!!

    “Sesungguhnya sesuatu yang akan datang itu sebentar lagi”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: