Posted by: icalmahdi | May 10, 2008

Laporan singkat Pertemuan Ahli & Workshop Profilaksis ARV &

Kemarin kami mengikuti Pertemuan Ahli dan Workshop Profilaksis ARV dan
Penatalaksanaan Pemberian Makanan Bayi pada Program PMTCT, yang
dilakukan oleh Depkes (Binkesmas) bersama dengan UNICEF. Dihadirkan
seorang ahli dari KwaZulu Natal, Afrika Selatan, yaitu Prof. Dr. Nigel
Rollins. Beliau menyampaikan beberapa presentasi yang sangat menarik
berdasarkan penelitian dan pengalaman terutama di Afrika. Selain Prof.
Rollins, Prof Zubairi dari Pokdisus AIDS FKUI/RSCM dan Dr. Dian Basuki
dari Sentra Laktasi Indonesia juga memberikan presentasi dalam
pertemuan.

Di antara peserta ada empat perempuan dengan HIV, dari Yayasan Stigma,
SWAP, Tegak Tegar dan Yayasan Layak. Salah satu di antaranya sedang
hamil tujuh bulan, dan membantu agar pertemuan tetap fokus pada
kenyataan di lapangan.

Tujuan pertemuan ini adalah untuk membentuk Rancana Aksi Nasional
(RAN). Melalui pertemuan pertama ini, panitia sudah mengumpulkan
beberapa masukan dari peserta yang akan ditindaklanjuti pada pertemuan
selanjutnya, yang akan membahas RAN dan pedoman nasional untuk PMTCT.

Terlihat adanya kesimpangsiuran mengenai pedoman mana yang akan diikuti
sehingga rencana ke depan untuk membentuk RAN sebaiknya segera
dilakukan.

Panitia menjanjikan akan menyebarkan notulen dan semua presentasi
PowerPoint. Tetapi saya rasa ada manfaat saya menulis kesan utama saya
dari pertemuan ini, terutama beberapa masalah yang cukup penting
diangkat dalam diskusi.

Prof Rollins mengaku bahwa masalah makanan untuk bayi yang dilahirkan
oleh ibu HIV-positif mengangkat banyak emosi. Kebanyakan orang sangat
setujui menyusui atau mendesak agar anak diberi formula – tidak ada
yang ditengah-tengah. Dan ada juga kecenderungan untuk mengikuti hati,
bukan otak. Selain itu, banyak yang mempunyai kepentingan sendiri,
termasuk terkait pemasaran formula.

Beberapa hal yang menarik:

1. Kita tidak tahu bagaimana ASI yang mengandung HIV menularkan bayi

2. Peningkatan penularan dari makanan campur (bukan ASI eksklusif)
tidak timbul karena luka-luka kecil dalam usus bayi akibat makanan
yang tidak sehalus ASI, melainkan oleh tiga hal:

* Sisa ASI yang tertinggal dalam payudara dapat menimbulkan
mastitis (peradangan) sub-klinis (tanpa gejala), yang
meningkatkan viral load HIV dalam ASI dari payudara itu. Viral
load bisa berbeda antara kedua payudara.

* ASI mengandung sifat anti-HIV

* Formula mengubah lapisan usus sehingga lebih mudah ditembus oleh
virus

3. Bakteri dan kuman lain sangat mudah dan cepat berkembang biak dalam
susu formula – susu itu dipakai sebagai medium untuk biakan bakteri
dalam laboratorium. Bila formula yang sudah dicampur air tidak
disimpan dalam kulkas, tetapi dibawa dalam tas ibu dan diberikan
pada bayi beberapa jam kemudian, kemungkinan besar susu tersebut
akan mengandung banyak kuman penyebab diare.

4. Pemberian AZT pada bayi tampaknya tidak mengurangi risiko penularan
dari ASI. Namun pemakaian nevirapine (atau lebih baik, terapi
antiretroviral (ART) penuh) oleh Ibu saat menyusui akan mengurangi
risiko bayi terinfeksi oleh ASI menjadi hampir nol.

5. Anjuran terbaru dari WHO (2006) mengusulkan penggunaan ASI
eksklusif selama enam bulan (sebelumnya jangka waktu tidak jelas,
dan sering diusulkan hanya empat bulan), bila formula tidak dapat
diberikan dengan cara AFASS (afordable, feasible, acceptable,
sustainable, safe). Setelah enam bulan, tergantung pada keadaan,
tetapi di beberapa lingkungan, diusulkan diteruskan sampai 24 bulan
atau segera berhenti setelah AFASS. Masalahnya, bagaimana dapat
berhenti menyusui secara mendadak, karena pasti bayi
menangis/teriak, sehingga ibu didesak untuk memberi ASI.

6. Menambah sedikit air (1-2 sendok kecil per hari) kemungkinan tidak
menjadi masalah (asal airnya bersih), tetapi ada risiko bila lebih.
Masalahnya, bagaimana dapat membatasi hanya 1-2 sendok? Lebih mudah
didesak eksklusif, tanpa tambahan apa pun.

7. Sangat jarang ibu tidak mampu memberi ASI yang cukup, walau dia
sendiri kurang gizi. Namun mungkin dia harus dibimbing mengenai
cara memberi ASI yang benar. Bila ibu sangat sakit, hampir selalu
dia akan memilih pemberian formula.

8. Jumlah CD4 ibu paling penting sebagai prediktor risiko penularan
dari ASI. Dengan CD4 di bawah 350, sebaiknya tidak menyusui lebih
dari enam bulan.

9. Yang paling penting, menurut Prof Rollins: bila kita ingin
meningkatkan daya tahan hidup bayi/anak, kita HARUS memerhatikan
kesehatan/kesejahateraan ibunya. Beliau sangat mendesak agar upaya
kita diutamakan untuk menemukan ibu hamil yang terinfeksi HIV
dengan CD4 di bawah 200, agar mereka dapat mulai ART secepatnya
(sedikitnya dalam dua minggu). Dia mempertanyakan kebijakan yang
menyediakan ART secara gratis tetapi untuk tes CD4 harus bayar.

10. Peranan konselor sangat penting, dan seharusnya konselor tidak
egois atau mengutamakan kepentingan sendiri. Sayangnya, penelitian
menunjukkan bahwa kebanyakan konselor di Afrika Selatan melanggar
asas ini, dan cenderung mendesak ibu untuk ikut strategi yang
diinginkan oleh konselor.

Dalam diskusi, Dr. Dyani yang mewakili Ikatan Dokter Anak Indonesia
(IDAI) menunjukkan bahwa rekomendasi IDAI adalah agar semua anak dari
ibu HIV-positif sebaiknya diberi formula, kecuali tidak dapat dilakukan
secara AFASS. Ibu Nafsiah Mboi (sekretaris KPAN dan juga seorang
dokter anak) sangat menentang ini; beliau berpendapat bahwa harus
sebaliknya: diberi ASI kecuali terbukti bisa diberi formula dengan cara
AFASS. Prof Rollins beranggapan bahwa tidak cocok menentukan kebijakan
mutlak; dokter/konselor harus menyelidiki keadaan ibu/keluarga, dan
membentuk strategi untuk ibu tersebut sebagai individu berdasarkan
diskusi bersama.

Juga ada dikusi mengenai manfaat/risiko kelahiran sesar pilihan pada
ibu HIV-positif. Prof Rollins menjelaskan bahwa bila ibu memakai ART
dan viral loadnya tidak terdeteksi, tidak ada manfaat dari kelahiran
sesar. Setelah pertemuan, Dr. George Adriaansz yang mewakili
Perhimpunan dokter Ob/Gin Indonesia (POGI) mengkonfirmasi pada saya
bahwa kebijakan POGI adalah sama dengan kebijakan American College of
Obstetricians and Gynecologists (ACOG) – lihat Kelahiran sesar untuk
ibu terinfeksi HIV: usulan dan kontroversi
<http://spiritia.or.id/cst/bacacst.php?artno=1090>, dan POGI tidak
setuju perempuan HIV-positif didesak untuk melakukan sesar.

Juga diangkat masalah bahwa salah satu rumah sakit rujukan, selain
‘memaksa’ ibu melahirkan secara sesar, mewajibkan mereka untuk
menyetujui disterilisasi setelah melahirkan. Semua beranggap bahwa hal
ini melanggar hak asasi manusia. Prof Rollins menambahkan bahwa bila
dilakukan aturan seperti ini, perempuan enggan kembali, dan mungkin
akan hilang total dari perawatan.

Ada diskusi mengenai penyediaan konselor untuk ibu HIV-positif. Jelas
hal ini adalah tantangan besar di Indonesia – Sentra Laktasi sepertinya
kewalahan dengan konseling untuk ibu tidak terinfeksi HIV – dan diakui
bahwa belum ada cukup konselor untuk VCT, apa lagi untuk konseling
lanjutan. Prof Rollins mendesak agar konselor tidak hanya dilatih satu
kali – harus ada pelatihan lanjutan – dan kinerja konselor dievaluasi,
bukan hanya dievaluasi pelatihan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: