Aku yakin dalam sebuah kelas di suatu sekolah dasar yang berisi 30-an siswa, jika ditanya “Apa Cita-Cita kalian anak-anak ..?”. Dijamin 101 % ada yang menjawab menjadi dokter. Dan aku percaya bahwa yang bercita-cita menjadi dokter tidak sedikit. Bahkan mungkin mendominasi. Meski ada yang meramaikan, seperti pilot, polisi, astronot, tentara, presiden, insinyur dll. Tak ayal lagi cita-cita menjadi dokter masih menduduki klasemen papan atas impian anak-anak. Read More…
MAU KAYA..?? JANGAN JADI DOKTER.!!
Posted in Opini
tiga tokoh itu..
tiga penjahat itu sempat tertawa dengan bangga
tiga pembunuh massal itu puas dengan hasil pembantaiannya
tiga berandal itu tetap kukuh atas akal pikirannya
tiga teroris itu akhirnya mati juga
tiga pahlawan itu tersenyum simpul sambil bertasbih
tiga pejuang itu telah teguh meruntuhkan kemaksyiatan
tiga pemberani itu masih gentar beraksi fenomenal
tiga mujahid itu sedang menjemput syahidnya
————————————————
Posted in Puisi
CHANGe.!!!.. YES We CAN…!!!
Posted in Pesan, Uncategorized
Ukhuwah Dengan Cinta..

Kala itu imam Hasan Al Banna dan rekan-rekan ikhwan yang lain berniat memperingati momen maulud nabi Muhammad SAW. Dengan tujuan mempererat ukhuwah dan menjalin silaturahim, niatan itu pun disepakati. Kemudian, sang Imam mengontak salah satu ikhwan untuk menanyakan kesediaannya menjadi tuan rumah. Dan dengan senang hati ikhwan itu pun menerima tawaran dari Al Banna. Sang ikhwan akan menyiapkan segala sesuatunya agar pelaksanaan acara berjalan dengan lancar. Sore pun tiba, Hasan Al Banna dan beberapa ikhwah yang lain mengunjungi ikhwan yang tadi telah bersedia menjadi tuan rumah. Ketika tiba, mereka disambut dengan ceria dan sungguh sangat menandakan kerekatan ukhuwah di antara mereka. Beberapa hidangan sederhana juga menyambut kedatangan para tamu. Meskipun terbilang mendadak, namun tampaknya acara sudah dipersiapkan secara matang oleh sang tuan rumah. Acara dibuka dengan tilawah, sedikit mentadaburi. Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian beberapa kabar dari ikhwan yang datang di sana. Dan akhirnya ditutup dengan taujih dari sang Imam, terutama kaitannya topik meneladani Rasulullah. Memang acara terbilang cukup sederhana. Tidak membutuhkan persiapan yang matang dan dana yang besar. Bahkan tujuan mereka untuk mempererat ukhuwah persaudaraan pun terlaksana, dan itu yang penting.
Lalu saat acara akan berakhir sang tuan rumah meminta izin untuk berbicara. Ternyata apa yang dikatakan sang tuan rumah membuat hati ikhwan yang lain tercengang. “Ikhwah fillah, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kesediaan ikhwah sekalian untuk datang di acara ini“. “Saya mohon maaf pula jika sebagai tuan rumah telah membuat hati saudara-saudara sekalian kurang berkenan. Semoga kegiatan ini semakin mengikatkan ukhuwah kita bersama atas dasar rasa cinta kita pada Allah Swt“.
Kemudian sang ikhwah tuan rumah tersebut melanjutkan, “Dan yang terakhir, saya mohon yang sebesar-besarnya kepada saudara-saudara untuk bisa datang kembali esok pagi ke sini!“. semua yang hadir terkejut dan bertanya ada apa gerangan yang terjadi, kemudian salah satu mereka bertanya, sang tuan rumah pun menjawab dengan nada yang rendah, “Saya minta bantuannya untuk mempersiapkan acara pemakaman istri saya, yang baru saja meninggal sore tadi“. Mendengar jawaban itu seketika saja semuanya terkejut, termasuk Hasan Al-Banna. Kemudian sang Imam bertanya kepada si tuan rumah, “Ya saudaraku.., mengapa engkau tidak mengatakan kepada kami bahwa ternyata engkau sedang berduka, sehingga acara untuk memperingati hari kelahiran Rasul ini tidak usah diselenggarakan??. Kemudian mengapa pula kau tidak menampakkan wajah sedih sekalipun kepada kami, padahal istri yang amat kau cintai telah meninggal sore ini”.
Pertanyaan ini kemudian dijawab dengan suara yang teramat bijak.”Ya ikhwahku sekalian, aku sesungguhnya tak ingin merusak rasa ukhuwah di antara kita hanya karena sebuah berita pribadiku. Kalaupun acara ini tergantikan dengan ta’ziyah, itu pun bisa kita laksanakan esok hari. Dan itu tidak mengurangi rasa ukhuwah di antara kita”.
Sang ikhwan terdiam sejenak, tampak mempersiapkan jawaban yang kedua. “Mengapa aku tak tampak sedih.??, ya..ikhwahku, sesungguhnya aku pun sangat sedih atas meninggalnya istri tercintaku ini. Aku pun terpukul atas kepergiannya. Namun aku mengambil sebuah hikmah yang sangat besar dari ini semua. Ternyata Allah ingin mengujiku, bagaimana cara memperlakukan rasa cintaku kepadaNya. Memang, selama ini aku sangat mencintai istriku, aku sangat bersyukur telah dianugerahi pasangan hidup yang begitu mempesona ini. Hingga ku sadar bahwa ternyata Allah telah cemburu padaku. Rasa cinta yang seharusnya menjadi hak Allah untuk kusampaikan, telah kuberikan lebih kepada istriku. Dan ini mungkin yang membuat Allah memberi peringatan, pertama karena Allah tidak ingin cintaNya diduakan dan yang kedua karena Allah ingin mengujiku, apakah setelah istriku meninggal, aku masih sangat mencintainya melebihi rasa cintaku pada Allah“.
(sumber : “berusaha kuingat…tapi… benar-benar lupa”. Keliatannya dari kajian deh..)
————————————————————————-
Ukhuwah itu penting, dan ini merupakan modal utama dalam melaksanakan kehidupan dan berinteraksi dengan yang lain. Terutama dalam aktivitas amal kebaikan. Untuk membentuk ukhuwah tidak membutuhkan dana yang besar, namun efeknya sungguh luar biasa mahalnya.
Proporsi rasa cinta kita harus benar. Mana yang harus menjadi prioritas pertama, mana yang prioritas selanjutnya. Apakah kita selama ini telah menempatkan prioritas rasa cinta kita kepada Allah pada urutan pertama di atas rasa cinta kita pada makhluk / benda ciptaaNya. Dan apakah kita selama ini memberikan rasa cinta kepada seseorang/sesuatu itu atas dasar cinta kita kepada Allah Swt.
Ketika kita sudah memberikan rasa cinta sepenuhnya kepada Allah atau menempatkan rasa itu di urutan teratas, kita akan siap di saat seseorang/sesuatu yang juga kita cintai akan hilang. Karena kita sadar bahwa mencintai sesuatu dzat yang Maha Kekal, maka rasa cinta itu terus akan kekal. Dan lebih menakjubkan lagi ketika Allah mengizinkan kita tetap hidup dengan sesorang/sesuatu tadi dengan kekal di surgaNya.
PEMUDA BERSUMPAH
Satu tanah air, Satu bangsa, Satu bahasa..
Ternyata bisa saja pemuda kala itu. Yah.. 80 tahun yang lalu. Iseng-iseng berkumpul, ada yang punya gagasan dasyat. Menyatukan Indonesia. Mereka tampaknya sudah frustasi dengan keadaan rakyat Indonesia yang kebanyakan terpaksa rela untuk terus dijajah Belanda. Mau apalagi??. Perlawanan heroik secara fisik sudah berkali-kali gagal. Tentu saja karena peralatan yang kurang memadai, pengetahuan yang dangkal. Banyak yang beranggapan, biarlah hidup seperti ini, biarlah dalam kekangan bangsa lain. Asal bisa makan, bisa tidur, nggak masalah dijajah asal kita masih hidup layak..
Hidup Layak..??.. ini mungkin kata yang tidak ada di kamus pemuda yang tergabung dalam Young-young itu. Mana mungkin bisa dikatakan hidup layak kalau kita masih mengais rejeki dari mener-mener nenek moyang Ruud Van Nistelroy itu. Yaah.. memang kita sedang hidup layak.. Layak untuk ditinggalkan.
Coba bayangkan kalau kita berada pada barisan pemuda-pemudi pengucap sumpah itu. 28 Oktober 1928. Pastilah hawa persatuan itu terasa mengalir bersama adrenalin kita. Nggak main-main nih.. Kita ikut berteriak melantunkan sumpah sakti itu. Pertama tentang tanah air. Wow.. dari Sabang sampai Merauke ada pada genggaman kita..para pemuda. Tumpah darah masing-masing dari kita menyatu dalam Tanah Air Indonesia. Itu sumpah. Sumpah adalah janji. Kita hanya menjadi orang munafik ketika janji itu hanya manis di lidah. Tekad yang mengagumkan bukan.
Kedua, menyinggung kebangsaan. Mungkin para pemuda itu terinspirasi dengan cap jay. (sudah ada nggak ya di tahun 1928). Ada wortel, brokoli, sayur (yang bermacam-macam), daging, sosis, jamur, udang, bumbu-bumbu (bawang, jahe, merica, kecap, garam), plus tepung maizena sebagai pengental. Semuanya dari berbagai unsur. Ada akar-akaran, ada daun-daunan, ada daging hewan darat, hewan laut, biji-bijan ditambah tepung lagi. Dicampur jadi satu. Alhasil enak jika dirasakan. Nah, itulah mungkin bangsa impian pemuda-pemudi angkatan 28. Negara ini terdiri dari beragam suku bangsa (gak beda jauh dengan bahan cap jay tadi). Dibalik sumpah yang kedua ini, tersimpan obsesi untuk mensinergiskan kehidupan majemuk yang telah ada. Agar timbul manfaat, terasa kebersamaanya. Nggak hanya di lidah saja. Tapi sampai ke hati..
Ketiga, yang terakhir, adalah bahasa. Wah..benar-benar menarik. Sederhana, simple, tapi jika dilupakan dampaknya sungguh besar. Ini adalah bab komunikasi. Mana mungkin perbuatan yang gemilang bisa terlaksana tanpa adanya koordinasi. Mana mungkin kordinasi bisa jalan jika nggak ada komunikasi. Dan mana mungkin komunikasi bisa lancar jika bahasanya berbeda, tidak bersatu. Impian untuk menyatukan unsur tadi bisa-bisa akan porak poranda hanya karena satu hal. Miss-Communication. Masalah klasik tapi kronis. Dan masalah ini sudah disadari oleh pemuda kala itu. Dan sengaja diukir dalam sumpahnya. Sebagai kata penutup.
Ehhm.. andaikata alumni pertemuan 28 Oktober 1928 itu melihat kondisi bangsa ini sekarang. Saat ini, detik ini, mereka melihat dengan mata kepalanya apa yang terjadi dengan negeri Indonesia ini. Pastilah ada yang nyeletuk, “mana pemudanya..?? apa yang telah mereka perbuat..?? mana tanggung jawabnya..??”.
Apakah mau kita ulang lagi pembacaan sumpahnya..??. Atau malah kita edit lagi isinya..?? Atau yang mau lebih ekstrim. Judul sumpahnya diganti aja. Sumpah Orang Tua, Sumpah Lansia, Sumpah Bayi. Hanya karena pemuda kita saat ini sudah bosan menanggung beban sumpah 1928 itu.
Tapi aku yakin ditengah-tengah kalutnya negeri ini. Yang masih diliputi awan kelam berduka. Ada Pemuda yang terus berharap. Berharap akan perbaikan negeri. Mereka sadar bahwa mereka yang paling punya tanggung jawab terbesar. Mereka optimis dengan keberharapannya, perbuatan menuju perubahan akan bisa terlaksana dengan baik.
————————————————————————
Di tengah suramnya wajah orang banyak, ternyata aku masih bisa tersenyum. Tersenyum penuh harap. Sumpah yang diucap kakak-kakak pemuda 1928 kala itu akan kita wujudkan selagi masih ada waktu.
Posted in Pesan
Tanggung Banget nih…(Cuma Penanggungan..)
18-19 OKTOBER 2008
Bersama dengan 4 rekan sejawat kampus..,ku mencoba arungi medan di Gunung Penanggungan.. (lewat jalur Trawas-Mojokerto..)
my comments:
Subhanallah.. Wonderful..Incridible..!!!
…!!!

dari kiri ke kanan : Fajar, Rona, Shofwan, "saya", Noviandhy
“Para calon dokter yang lagi stress kuliah, lari ke Gunung.. “
—————————————————————-
Posted in Activity
Mamaku (edisi Halal – Haram)
Anak : Ma.. Atu mau toklat itu ma..!!
Mama : Cokelat yang mana..??
Anak : Itu loh ma.. Yang bungkusna melah itu ..!!
Mama : Wah.. Jangan yang itu dek.. Itu kan buatan luar negeri, dan belum ada label halal-nya..!!
Anak : Abel alal..??
Mama : Iya…contohnya kayak gini lo dek gambarnya.. (sambil menunjukkan produk kemasan yang lain)
Anak : Loh..napa Ma kalo gak ata abel alal-na.??.. kan toklat tu gak alam..??
Mama : Iya dek.. cokelat memang nggak haram, karena terbuat dari tanaman, namanya tanaman cokelat. Tapi cara mbuatnya kan kita nggak tau, klo dicampur sama bahan yang lain dan itu haram gimana..??
Anak : Yah.. cadi alam deh..
Mama : Nah gitu adek tahu, mangkanya hati-hati klo adek beli makanan. harus dicek haram-halal nya..
Anak : ooww..
Mama : Dengan ada gambar label halal, berarti makanan itu sudah diperiksa kehalalannya. kalo sudah gitu, nggak papa deh adek makan. Nih mama belikan cokelat yang ada label halalnya..
Anak : Acik.. makatih ma..!! Oiya ma.. tati mama kan beli candal, tutah tipelikta belum abel alal-na..?? klo gak ata belalti itu candal alam lo ma..!! Nggak boleh tipake..!!
Mama : ! !##%$#?
PERJALANAN INI…
Memang bosan jika kaki ini terus dibuat berjalan. Energinya telah mati. ditambah lagi ada saja yang menaruh beban baru di tengahnya. sempat mungkin tercetus sebuah memorandum kelemahan. Ragu dengan perspektif pribadi.
Memang malu untuk dirasakan..
Sudah terlalu lama berjalan. akankah terputus hanya dengan melihat diorama palsu ini.
Ada yang bilang..durasi perjalanan ini sungguh terlalu lama. Bahkan tuk dibandingkan dengan kredit umur kita..
apalagi semangat jiwa kita ikut bertaruh di lesatan perjalanannya.
Ada saja yang menggadainya dengan harga yang murah.
Kebosanan sudah mencapai treshold, ambang batas, ketika tak ada lagi yang bisa digandeng untuk berjalan bersama..
Dan.. tak tahu lagi spektrum beban ini akan dibagi ke mana..
Berjalanlah meskipun kau sedang kelelahan.
jika benar tak tertahankan.. berhentilah sejenak.! tapi tidak murni berhenti..
tanpa aksi…tanpa daya…tanpa ada yang dipikir. minimal, gejolak akal kita tak serta merta dalam kestatisan yang berkepanjangan..sel neuronnya tetap berseru, bergumam demi keberlangsungannya.. Sinaps-nya tetap bermain-main menyalurkan ambisi dan menghantarkan ke juluran otot.. untuk terus melanjutkan perjalan.
Perjalanan ini adalah tokoh utamanya.
Mancapai akhir perjalanan dan merebut kemenangan..??
Tampaknya peluang kemustahilannya hampir mencapai 100 %, atau bahkan telah mencapainya.
Pelari pertamanya sudah berhenti berabad-abad yang lalu.. Melanjut ke pemain berikutnya.. Banyak memang yang sudah berhenti..
Tapi Perjalanan ini tak berhenti..
takkan pernah..
kita akan benar-benar tidak bisa berjalan pada saatnya nanti..saat DIA berkehendak.
Perindahlah perjalanan ini, sebelum saatnya tiba. memberikan peta baru kepada pejalan kaki selanjutnya. meski kita lelah, meski kita bosan, meski kita lemah..
——————————————————————–
Kulayangkan pandangku melalui kaca jendela
Dari tempatku bersandar seiring lantun kereta
Membawa diriku melintasi tempat-tempat yang indah
Membuat isi hidupku penuh riuh dan berwarna
Perjalanan inipun kadang merampas bijak hatiku
S’kali waktupun mungkin menggoyahkan pundi cintaku
Meretaskan setiaku…menafikan engkau disana
Maafkan aku…
Cepatku kembali…
(Perjalanan Ini – Padi)
Oleh-Oleh dari Desa
3 Hal yang bisa ku ambil saat berkunjung ke Sanak Saudara..:
1. Segera buat silisilah keluarga
2. Segera belajar bahasa jawa kromo (Kromo Inggil)
3. Segera mencari pacar (baca:calon) yang baik
Mengapa…??
Posted in Story - ku
Sebuah Epilog
EPIFORA KESEDIHAN DAN HARAPAN
Kemuliaannya telah berlalu..
Gemerlapnya baru saja beranjak pergi..
Sang cenayang takkan bisa tau akankah kita berjumpa lagi..
Memang menjadi sebuah enigma yang tak pasti
Pernah dalam suatu waktu epifora itu mengalir di pipi
Sedikit menggoreskan tabir hati
Merasa kecil atas penghambaan ini
Apalagi saat kudengar lantunan doa memukau lagi
Di sepertiga malam ku yang sendiri
Aku sedih karena kawan terbaikku kan pergi
Pranalanya sudah tak lagi bisa ku nikmati
Oh kawanku akankah kau kembali…Bersamaku menari lagi…
Itulah kesedihanku kini
Namun,
Esok ada pula yang datang
membawa secercah harapan
penuh maaf, penuh berkah, penuh riang
Takbir-takbir melayang ke angkasa menerima kawan
Banyak sekali yang baru..
fadihat-pun belum bermunculan
..Kuharap jangan..
Ku siap menyongsongnya wahai kawan
Itulah harapanku kini
———————————————————————————-
GLOSARIUM
epifora – air mata
enigma – misteri
fadihat – nista, noda, aib
pranala – tautan kaitan
cenayang – kemampuan seseorang dapat melihat hal yang gaib terutama hal-hal yang akan terjadi
Posted in Puisi












