<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>BERAWAL DARI SINI... &#187; Dakwah</title>
	<atom:link href="http://icalmahdi.wordpress.com/category/dakwah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://icalmahdi.wordpress.com</link>
	<description>one voice from my soul</description>
	<lastBuildDate>Mon, 09 Feb 2009 03:46:47 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='icalmahdi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/48d2fd564952934fa51bde634417ac97?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>BERAWAL DARI SINI... &#187; Dakwah</title>
		<link>http://icalmahdi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://icalmahdi.wordpress.com/osd.xml" title="BERAWAL DARI SINI&#8230;" />
		<item>
		<title>Ukhuwah Dengan Cinta..</title>
		<link>http://icalmahdi.wordpress.com/2008/11/06/ukhuwah-dengan-cinta/</link>
		<comments>http://icalmahdi.wordpress.com/2008/11/06/ukhuwah-dengan-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Nov 2008 10:23:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icalmahdi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Pesan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://icalmahdi.wordpress.com/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[         
           Kala itu imam Hasan Al Banna dan rekan-rekan ikhwan yang lain berniat memperingati momen maulud nabi Muhammad SAW. Dengan tujuan mempererat ukhuwah dan menjalin silaturahim, niatan itu pun disepakati. Kemudian, sang Imam mengontak salah satu ikhwan untuk menanyakan kesediaannya menjadi tuan rumah. Dan dengan senang hati ikhwan itu pun menerima tawaran dari Al Banna. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=icalmahdi.wordpress.com&blog=3663503&post=218&subd=icalmahdi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">         <a href="http://icalmahdi.files.wordpress.com/2008/11/leaf.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-227" style="border:0;" title="leaf" src="http://icalmahdi.files.wordpress.com/2008/11/leaf.jpg?w=243&#038;h=170" alt="leaf" width="243" height="170" /></a><br />
           Kala itu imam Hasan Al Banna dan rekan-rekan ikhwan yang lain berniat memperingati momen maulud nabi Muhammad SAW. Dengan tujuan mempererat ukhuwah dan menjalin silaturahim, niatan itu pun disepakati. Kemudian, sang Imam mengontak salah satu ikhwan untuk menanyakan kesediaannya menjadi tuan rumah. Dan dengan senang hati ikhwan itu pun menerima tawaran dari Al Banna. Sang ikhwan akan menyiapkan segala sesuatunya agar pelaksanaan acara berjalan dengan lancar. Sore pun tiba, Hasan Al Banna dan beberapa ikhwah yang lain mengunjungi ikhwan yang tadi telah bersedia menjadi tuan rumah. Ketika tiba, mereka disambut dengan ceria dan sungguh sangat menandakan kerekatan ukhuwah di antara mereka. Beberapa hidangan sederhana juga menyambut kedatangan para tamu. Meskipun terbilang mendadak, namun tampaknya acara sudah dipersiapkan secara matang oleh sang tuan rumah. Acara dibuka dengan tilawah, sedikit mentadaburi. Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian beberapa kabar dari ikhwan yang datang di sana. Dan akhirnya ditutup dengan taujih dari sang Imam, terutama kaitannya topik meneladani Rasulullah. Memang acara terbilang cukup sederhana. Tidak membutuhkan persiapan yang matang dan dana yang besar. Bahkan tujuan mereka untuk mempererat ukhuwah persaudaraan pun terlaksana, dan itu yang penting.</p>
<p style="text-align:justify;">          Lalu saat acara akan berakhir sang tuan rumah meminta izin untuk berbicara. Ternyata apa yang dikatakan sang tuan rumah membuat hati ikhwan yang lain tercengang. &#8220;<em>Ikhwah fillah, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kesediaan ikhwah sekalian untuk datang di acara ini</em>&#8220;. &#8220;<em>Saya mohon maaf pula jika sebagai tuan rumah telah membuat hati saudara-saudara sekalian kurang berkenan. Semoga kegiatan ini semakin mengikatkan ukhuwah kita bersama atas dasar rasa cinta kita pada Allah Swt</em>&#8220;.</p>
<p style="text-align:justify;">          Kemudian sang ikhwah tuan rumah tersebut melanjutkan, &#8220;<em>Dan yang terakhir, saya mohon yang sebesar-besarnya kepada saudara-saudara untuk bisa datang kembali esok pagi ke sini!</em>&#8220;. semua yang hadir terkejut dan bertanya ada apa gerangan yang terjadi, kemudian salah satu mereka bertanya, sang tuan rumah pun menjawab dengan nada yang rendah, &#8220;<em>Saya minta bantuannya untuk mempersiapkan acara pemakaman istri saya, yang baru saja meninggal sore tadi</em>&#8220;. Mendengar jawaban itu seketika saja semuanya terkejut, termasuk Hasan Al-Banna. Kemudian sang Imam bertanya kepada si tuan rumah, &#8220;<em>Ya saudaraku.., mengapa engkau tidak mengatakan kepada kami bahwa ternyata engkau sedang berduka, sehingga acara untuk memperingati hari kelahiran Rasul ini tidak usah diselenggarakan??. Kemudian mengapa pula kau tidak menampakkan wajah sedih sekalipun kepada kami, padahal istri yang amat kau cintai telah meninggal sore ini&#8221;.</em></p>
<p style="text-align:justify;">          Pertanyaan ini kemudian dijawab dengan suara yang teramat bijak.&#8221;<em>Ya ikhwahku sekalian, aku sesungguhnya tak ingin merusak rasa ukhuwah di antara kita hanya karena sebuah berita pribadiku. Kalaupun acara ini tergantikan dengan ta&#8217;ziyah, itu pun bisa kita laksanakan esok hari. Dan itu tidak mengurangi rasa ukhuwah di antara kita&#8221;</em>.<br />
Sang ikhwan terdiam sejenak, tampak mempersiapkan jawaban yang kedua. &#8220;<em>Mengapa aku tak tampak sedih.??, ya..ikhwahku, sesungguhnya aku pun sangat sedih atas meninggalnya istri tercintaku ini. Aku pun terpukul atas kepergiannya. Namun aku mengambil sebuah hikmah yang sangat besar dari ini semua. Ternyata Allah ingin mengujiku, bagaimana cara memperlakukan rasa cintaku kepadaNya. Memang, selama ini aku sangat mencintai istriku, aku sangat bersyukur telah dianugerahi pasangan hidup yang begitu mempesona ini. Hingga ku sadar bahwa ternyata Allah telah cemburu padaku. Rasa cinta yang seharusnya menjadi hak Allah untuk kusampaikan, telah kuberikan lebih kepada istriku. Dan ini mungkin yang membuat Allah memberi peringatan, pertama karena Allah tidak ingin cintaNya diduakan dan yang kedua karena Allah ingin mengujiku, apakah setelah istriku meninggal, aku masih sangat mencintainya melebihi rasa cintaku pada Allah</em>&#8220;.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>(sumber : &#8220;berusaha kuingat&#8230;tapi&#8230; benar-benar lupa&#8221;. Keliatannya dari kajian deh..)</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Hikmah yang bisa diambil :<a href="http://icalmahdi.files.wordpress.com/2008/11/6a00d8341d6b4a53ef00e54f3595928834-800wi.jpg"><img class="size-full wp-image-224 alignright" style="border:0;" title="grass" src="http://icalmahdi.files.wordpress.com/2008/11/6a00d8341d6b4a53ef00e54f3595928834-800wi.jpg?w=239&#038;h=182" alt="grass" width="239" height="182" /></a></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ukhuwah itu penting</strong>, dan ini merupakan modal utama dalam melaksanakan kehidupan dan berinteraksi dengan yang lain. Terutama dalam aktivitas amal kebaikan. Untuk membentuk ukhuwah tidak membutuhkan dana yang besar, namun efeknya sungguh luar biasa mahalnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Proporsi rasa cinta kita harus benar</strong>. Mana yang harus menjadi prioritas pertama, mana yang prioritas selanjutnya. Apakah kita selama ini telah menempatkan prioritas rasa cinta kita kepada Allah pada urutan pertama di atas rasa cinta kita pada makhluk / benda ciptaaNya. Dan apakah kita selama ini memberikan rasa cinta kepada seseorang/sesuatu itu atas dasar cinta kita kepada Allah Swt.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika kita sudah <strong>memberikan rasa cinta sepenuhnya kepada Allah</strong> atau menempatkan rasa itu di urutan teratas, kita akan siap di saat seseorang/sesuatu yang juga kita cintai akan hilang. Karena kita sadar bahwa mencintai sesuatu dzat yang Maha Kekal, maka rasa cinta itu terus akan kekal. Dan lebih menakjubkan lagi ketika Allah mengizinkan kita tetap hidup dengan sesorang/sesuatu tadi dengan kekal di surgaNya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/icalmahdi.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/icalmahdi.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/icalmahdi.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/icalmahdi.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/icalmahdi.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/icalmahdi.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/icalmahdi.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/icalmahdi.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/icalmahdi.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/icalmahdi.wordpress.com/218/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=icalmahdi.wordpress.com&blog=3663503&post=218&subd=icalmahdi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://icalmahdi.wordpress.com/2008/11/06/ukhuwah-dengan-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/666c2301b76fdc6175b21b482f693af1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">icalmahdi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://icalmahdi.files.wordpress.com/2008/11/leaf.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">leaf</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://icalmahdi.files.wordpress.com/2008/11/6a00d8341d6b4a53ef00e54f3595928834-800wi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">grass</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PERJALANAN INI&#8230;</title>
		<link>http://icalmahdi.wordpress.com/2008/10/12/perjalanan-ini/</link>
		<comments>http://icalmahdi.wordpress.com/2008/10/12/perjalanan-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Oct 2008 17:42:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icalmahdi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Pesan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://icalmahdi.wordpress.com/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[ 
Memang bosan jika kaki ini terus dibuat berjalan. Energinya telah mati. ditambah lagi ada saja yang menaruh beban baru di tengahnya. sempat mungkin tercetus sebuah memorandum kelemahan. Ragu dengan perspektif pribadi.
Memang malu untuk dirasakan..
Sudah terlalu lama berjalan. akankah terputus hanya dengan melihat diorama palsu ini.
Ada yang bilang..durasi perjalanan ini sungguh terlalu lama. Bahkan tuk dibandingkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=icalmahdi.wordpress.com&blog=3663503&post=151&subd=icalmahdi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p> </p>
<p>Memang bosan jika kaki ini terus dibuat berjalan. Energinya telah mati. ditambah lagi ada saja yang menaruh beban baru di tengahnya. sempat mungkin tercetus sebuah memorandum kelemahan. Ragu dengan perspektif pribadi.<br />
Memang malu untuk dirasakan..<br />
Sudah terlalu lama berjalan. akankah terputus hanya dengan melihat diorama palsu ini.</p>
<p>Ada yang bilang..durasi perjalanan ini sungguh terlalu lama. Bahkan tuk dibandingkan dengan kredit umur kita..<br />
apalagi semangat jiwa kita ikut bertaruh di lesatan perjalanannya.<br />
Ada saja yang menggadainya dengan harga yang murah.<br />
Kebosanan sudah mencapai treshold, ambang batas, ketika tak ada lagi yang bisa digandeng untuk berjalan bersama..<br />
Dan.. tak tahu lagi spektrum beban ini akan dibagi ke mana..</p>
<p>Berjalanlah meskipun kau sedang kelelahan.<br />
jika benar tak tertahankan.. berhentilah sejenak.! tapi tidak murni berhenti..<br />
tanpa aksi&#8230;tanpa daya&#8230;tanpa ada yang dipikir. minimal, gejolak akal kita tak serta merta dalam kestatisan yang berkepanjangan..sel neuronnya tetap berseru, bergumam demi keberlangsungannya.. Sinaps-nya tetap bermain-main menyalurkan ambisi dan menghantarkan ke juluran otot.. untuk terus melanjutkan perjalan.</p>
<p>Perjalanan ini adalah tokoh utamanya.<br />
Mancapai akhir perjalanan dan merebut kemenangan..??<br />
Tampaknya peluang kemustahilannya hampir mencapai 100 %, atau bahkan telah mencapainya.<br />
Pelari pertamanya sudah berhenti berabad-abad yang lalu.. Melanjut ke pemain berikutnya.. Banyak memang yang sudah berhenti..<br />
Tapi Perjalanan ini tak berhenti..<br />
takkan pernah..</p>
<p>kita akan benar-benar tidak bisa berjalan pada saatnya nanti..saat DIA berkehendak.<br />
Perindahlah perjalanan ini, sebelum saatnya tiba. memberikan peta baru kepada pejalan kaki selanjutnya. meski kita lelah, meski kita bosan, meski kita lemah..</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<blockquote><p><strong><em>Kulayangkan pandangku melalui kaca jendela<br />
Dari tempatku bersandar seiring lantun kereta<br />
Membawa diriku melintasi tempat-tempat yang indah<br />
Membuat isi hidupku penuh riuh dan berwarna</em></strong></p></blockquote>
<blockquote><p><strong><em>Perjalanan inipun kadang merampas bijak hatiku<br />
S’kali waktupun mungkin menggoyahkan pundi cintaku<br />
Meretaskan setiaku&#8230;menafikan engkau disana<br />
Maafkan aku&#8230;<br />
Cepatku kembali&#8230;</em></strong></p></blockquote>
<p style="padding-left:60px;"><strong>(Perjalanan Ini &#8211; Padi)</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/icalmahdi.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/icalmahdi.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/icalmahdi.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/icalmahdi.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/icalmahdi.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/icalmahdi.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/icalmahdi.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/icalmahdi.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/icalmahdi.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/icalmahdi.wordpress.com/151/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=icalmahdi.wordpress.com&blog=3663503&post=151&subd=icalmahdi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://icalmahdi.wordpress.com/2008/10/12/perjalanan-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/666c2301b76fdc6175b21b482f693af1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">icalmahdi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Surat Untuk Adikku Tersayang&#8230;</title>
		<link>http://icalmahdi.wordpress.com/2008/09/22/surat-untuk-adikku-tersayang/</link>
		<comments>http://icalmahdi.wordpress.com/2008/09/22/surat-untuk-adikku-tersayang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Sep 2008 13:29:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icalmahdi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://icalmahdi.wordpress.com/?p=99</guid>
		<description><![CDATA[Adikku tersayang
Bagaimana kabarmu adik..? hati ini terus saja merindukanmu dik. Ku merindukan sesosok jiwa muda yang senantiasa hadir di tepian cakrawala pagi. Dengan semangat yang utuh. Mencoba menggelayuti di setiap desis langkahmu. Ku juga terus berharap kondisi adik dalam keadaan sehat walafiat. Tidak hanya kondisi fisik adik. Namun juga dalam kondisi terjaga jiwanya. Sebagaimana kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=icalmahdi.wordpress.com&blog=3663503&post=99&subd=icalmahdi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal">Adikku tersayang</p>
<p class="MsoNormal">Bagaimana kabarmu adik..? hati ini terus saja merindukanmu dik. Ku merindukan sesosok jiwa muda yang senantiasa hadir di tepian cakrawala pagi. Dengan semangat yang utuh. Mencoba menggelayuti di setiap desis langkahmu. Ku juga terus berharap kondisi adik dalam keadaan sehat walafiat. Tidak hanya kondisi fisik adik. Namun juga dalam kondisi terjaga jiwanya. Sebagaimana kita pertama kali bertemu. Adikku, dalam surat ini aku hanya ingin menyampaikan apa yang senantiasa muncul di<span> </span>pikiran. Ada perasaan yang selalu bercampur aduk. senang dan sedih. Keyakinan dan keraguan, keoptimisan dan ketakutan. Ku mencoba menuangkannya. Meskipun hanya beberapa paragraf coretan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span id="more-99"></span>Adikku tersayang</p>
<p class="MsoNormal">Ada sebuah rasa kagum ketika melihatmu berjalan tegap dengan tas ransel di punggung. Ada sebuah guncangan kebanggaan yang terjadi di benak ketika ku memandang seragam pramuka yang lusuh itu masih melekat di tubuh mungilmu. Keringat yang mengalir di pipi lesungmu mengingatkan ku pada apa yang pernah ku alami dulu. Senja yang menari-nari di kerlingan langit tak sanggup pula menahan ketakjuban hamazahmu tuk hadir di jalan ini. Sebuah jalan menelikung, penuh aral, rintangan, onak dan duri.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Adikku tersayang</p>
<p class="MsoNormal">Ada aura perubahan ketika kau mengucap salam padaku dik.. Wa’alaykumussalam.. Itu yang mungkin hanya bisa kujawab. Tak ada yang lain. Ku pun tak bisa mengungkapkan kesukacitaan hati ini saat tatapan mata kita bertemu. Ada harapan di matamu dik.. Ada sinar muda yang siap menjadi cahaya cemerlang dari lensa kecilmu itu. Ku kembali menggetarkan jantungku. Banyak yang sesungguhnya ingin keluar dari pita vokal ini. Kau insan hebat adikku. Sungguh sangat hebat..</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Adikku tersayang</p>
<p class="MsoNormal">Di saat rekan-rekan mu yang berputih abu-abu itu asyik dengan hobi-hobi kecilnya, di waktu sahabat-sahabat karib di bawah atap sekolahmu itu bersenandung akan cita-cita khayalan mereka, di kala itu semua, ku kembali terkagum dik. Kau sungguh memiliki impian yang fantastik. Jarang pemuda yang bisa membayang impian seperti itu. Kau memikirkan hidup dik.. ya.. kau sering memikirkannya. Bahkan saat kau membaca surat ini, kau sedang memikirkan hidup itu dik.. Sebuah kehidupan yang tak pernah berujung. Kehidupan akhirat. Dan tentu saja kau memilih surga.. Ehmm.. Fantastik bukan..?</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Adikku tersayang</p>
<p class="MsoNormal">Pernahkah kau melihat air sungai yang mengalir. Airnya yang jernih. Yah.. sejernih usiamu yang belia. Sungai itu membawa banyak kehidupan. Ikan, tanaman belukar, tumbuhan mengapung, semuanya ceria hidup di sana. Engkaulah sungai itu dik. Aliranmu bisa membuat kehidupan. Apa saja yang kau lewati, semua tersenyum padamu. Semua mengharapkan aliranmu. Kebaikan pun kau tebar ke manapun saja. Semakin panjang aliran yang kau arungi, semakin panjang pula pesona kebaikan yang kau tebar. Pernah kah terbayang jika aliran itu berhenti. Yahh.. berhenti tanpa ada gelombang. Atau pernah terbayang juga jika air dalam aliran itu keruh.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Oleh karena itu, Adikku tersayang</p>
<p class="MsoNormal">Kadang kala aku berpikir. Sesuatu yang mungkin seharusnya jangan kupikirkan. Sebuah rangkaian pikiran yang menghasilkan pertanyaan membayang. Terus dan terus membayang. Bayangan yang juga seharusnya tak usah kubayangkan. Namun tak bisa dik. Pertanyaan itu selalu muncul saja.</p>
<p class="MsoNormal">“tidakkah kau terlalu muda menggenggam amanah ini wahai adikku tersayang?”. Sempat ku beristighfar. Seharusnya lintasan akal ini tak mampir ke benakku. Ku sudah kagum atas aktivitas cemerlangmu. <span> </span>Bahkan terlalu kagum. Atau mungkin karena sangat kagumnya ku lupa menoleh ke sisi yang sesungguhnya juga patut ku lihat. “tidakkah kau terlalu muda menggenggam amanah ini wahai adikku tersayang?”.. Rasulullah pun harus menunggu usianya berkepala empat sebelum mendapat amanah dhasyat ini. Akan tetapi usiamu benar-benar masih hijau dik. Masih belasan bahkan. Itulah keraguanku. <span> </span>“tidakkah kau terlalu muda menggenggam amanah ini wahai adikku tersayang?”</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Adikku tersayang</p>
<p class="MsoNormal">Sempat pula ku terbayang. Pernah kupandang kondisi yang berbeda darimu dik. Meski jarang, kerap kali kumelihatmu beda. Di tengah keceriaan mu, kadang kala kau menympan ketidak seriusan. Tawa canda yang terlontar darimu sunguh asyik untuk dinikmati. Namun, ingatlah wahai adikku. Jalan dakwah ini tak mengenal ketidak seriusan. Aktivitas dakwah ini pun tak mengenal canda tawa yang tersiakan. <span> </span>Memang engkau masih muda dik. Sudah selayknya kau terbiasa dengan yang seperti itu. Tapi ingatlah taukah kau berapa kali Rasulullah bergurau.<span> </span>Berapa kali pula Rasulullah pernah melontarkan canda yang tak bermakna. Sekali lagi dik, amal dakwah tak akan berbuah dari usaha yang tidak serius.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Adikku tersayang</p>
<p class="MsoNormal">Untuk memikul dan memandu beban yang sangat berat ini, kesitiqomahan adalah hal yang mutlak keberadaanya. Tanpanya amanah dakwah ini hanyalah sebagai aksi insidental belaka. Tak berlanjut, tak ada episode berikutnya. Berhenti seketika, di saat keistiqomahan itu hilang. Aku takut dik.. Aku takut keistiqomahanmu hanya di bibir saja. Astaghfirullah&#8230; Aku tahu ini sebuah prasangka buruk dik. Tapi entah mengapa ini terlintas saja di pikiranku.. Aku sudah melihat yang lainnya berlaku sama. Sering bahkan. Istiqomah yang palsu. Awal dakwah yang manis, penuh semangat, tidak pernah berakhir dengan cantik. Langkahnya tak pernah mencapai garis finish. Mereka aktivis yang pengecut.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Adikku yang kusayang</p>
<p class="MsoNormal">Aku tak ingin adikku yang kucinta ini seperti itu. Teguhlah dik. Kuatlah dik. Bertahanlah dik.. Jalan dakwah mustahil dipenuhi dengan kenyamanan. Jalan dakwah juga mustahil dihiasi canda gurau rendahan. Ini adalah jalan Allah. Jalan yang mulia, jalan yang suci. Akankah hanya kita lalui tanpa sebuah prestasi yang membanggakan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Adikku yang kusayang</p>
<p class="MsoNormal">Atas kerendahan hatimu aku berucap beribu terima kasih. Jazakumullah khoiron katsiron. Jujur dik, aku sungguh tak mengindahkan segala kekuranganmu. Karena apa.. Karena ku yakin pasti kelebihanmu jauh lebih menjulang. Banyak potensi yang belum kau curahkan untuk kebaikan ini dik.. Sekali lagi ku yakin atas itu.. Bangkitkan potensimu.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Adikku&#8230;</p>
<p class="MsoNormal">Sudah saatnya tongkat estafet amanah ini beralih ke tangan mu. Sudah saatnya kita bersama-sama berlari secepat mungkin. Jangan hiraukan bisikan-bisikan tak bermutu dari mulut syaitan. Kita harus mengejar waktu. Segeralah berubah dik.. segeralah menuju kemenangan dik. Di sekolahmu telah menunggu. Sekelompok pemuda pula yang siap menerima keteladananmu sebagai seorang da’i. Sebagai agen perubah. Sebagai generasi penerus risalah. Tebarlah pesona di manapun kau berada. Pesona kebaikan, pesona kebenaran dan tentu saja pesona Surga. Semoga kita dipertemukan bersama dengan Allah dengan kondisi wajah ceria tersenyum.. Subhanallah..</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>(Disampaikan di Dauroh Tarqiyah.. Ramadhan Student Camp 1429 H. dengan sebuah iringan nasyid berjudul &#8220;AJARI AKU&#8221;-Suara Persaudaraan)</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>(Kutulis dengan sebuah harapan&#8230; Harapan yang besar terhadap azzam para penerus risalah)</strong></p>
<p class="MsoNormal">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/icalmahdi.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/icalmahdi.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/icalmahdi.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/icalmahdi.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/icalmahdi.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/icalmahdi.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/icalmahdi.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/icalmahdi.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/icalmahdi.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/icalmahdi.wordpress.com/99/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=icalmahdi.wordpress.com&blog=3663503&post=99&subd=icalmahdi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://icalmahdi.wordpress.com/2008/09/22/surat-untuk-adikku-tersayang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/666c2301b76fdc6175b21b482f693af1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">icalmahdi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>I CAN DO BETTER</title>
		<link>http://icalmahdi.wordpress.com/2008/08/21/i-can-do-better/</link>
		<comments>http://icalmahdi.wordpress.com/2008/08/21/i-can-do-better/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Aug 2008 22:21:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icalmahdi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://icalmahdi.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Ketika kita baca tulisan ini, cobalah tuk sejenak alihkan perhatian pada apa yang kita perbuat satu tahun yang lalu. Kita nikmati kembali suasana penuh haru itu. Kita reccall kembali bilik memori yang sempat terisi dengan aktivitas-aktivitas fenomenal penuh prestasi itu. Satu bulan penuh tak hanya kita tahan dengan lapar dan haus. Tak hanya menahan pandangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=icalmahdi.wordpress.com&blog=3663503&post=12&subd=icalmahdi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="size-medium wp-image-17 alignright" src="http://icalmahdi.files.wordpress.com/2008/08/autumn-leaves1.jpg?w=239&#038;h=190" alt="" width="239" height="190" />Ketika kita baca tulisan ini, cobalah tuk sejenak alihkan perhatian pada apa yang kita perbuat satu tahun yang lalu. Kita nikmati kembali suasana penuh haru itu. Kita reccall kembali bilik memori yang sempat terisi dengan aktivitas-aktivitas fenomenal penuh prestasi itu. Satu bulan penuh tak hanya kita tahan dengan lapar dan haus. Tak hanya menahan pandangan atas rupa yang cantik nan tampan. Tak hanya membisu akan frase-frase tak berisi. Dan tak hanya pula pikiran ini melayang ke angan tanpa ada makna secuil pun. Ada sebuah hikmah  yang duduk tersembunyi di baliknya.</p>
<p>Coba kita meluncur kembali ke segmen waktu penuh berkah itu. Masing-masing dari kita pasti punya kisah yang beragam. Ukiran prestasi demi prestasi yang terpahat bukan sebuah hal yang terjadi begitu saja. Waktu satu bulan untuk menghabiskan satu-dua  jus, bergadang dengan ditemani sehelai sajadah, berucap beribu doa, mulai dari doa favorit kita, hingga doa yang belum pernah sekalipun keluar dari bibir. Semua itu terhiasi begitu cepat dalam fragmen Ramadhan. Yah.. hanya di fragmen itu. Bukan di bulan yang lain.</p>
<p><span id="more-12"></span>“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dan bathil. Karena itu, barang siapa di antara kamu berada di bulan itu, maka berpuasalah. &#8230;  ”<br />
(QS. Al-Baqarah 185)</p>
<p>Ada hawa khas yang muncul ketika kita melangkah di bulan indah itu. Semuanya tampak dan terasa berbeda. Entah mengapa semua amalan terasa ringan untuk dikerjakan. Mari kita ingat bersama, Ada energi khusus yang mendorong kita untuk berpahala sebanyak mungkin. Situasi lingkungan juga kondusif dalam pendukungan aktivitas ruhiyah kita. Pergi ke mushola kampus, ada kontes tilawah. Pergi sholat tarawih, seperti merasakan sholat Jumat.  Mau pergi i’iktikaf, sama seperti ingin pergi rihlah,  janjian dulu dengan orang banyak, bawa bekal. Dan ketika sampai tempat tujuan, “wahana wisata” yang kita kunjungi telah penuh dengan “pelancong”. Sekali lagi, pemandangan seperti ini terus akan kita nikmati acap kali kita hadir di tengah kegemerlapan Ramadhan.<br />
 Tanpa disadari, sesunguhnya kita terus-menerus melewati sebuah koridor rutinitas tahunan bernama Ramadhan. Tak sedikit orang yang memaknai bulan suci ini hanya sebagai sebuah perhelatan tahunan belaka. Memang ada yang spesial di bulan ini. Banyak obral pahala, banyak diskon dosa, hingga doorprize bernama “malam lailatul qodar” terus diperebutkan oleh kebanyakan dari kita. Namun, kita terlalu sering memperbandingkan kehebohan Ramadhan ini dengan bulan-bulan yang lain. Syawal dengan puasa 6 harinya, Rabiul Awal dengan Mauludnya, Rajab dengan Isra’-Mi’rajnya, dan Dhulhijjah dengan Ibadah Hajinya. Memang Ramadhan jauh lebih “prestige” di banding kawan-kawannya yang lain. Jauh lebih bergengsi daripada bulan yang lain meskipun bulan lain telah memiliki kemuliaan tersendiri. Oleh karenanya doa Rasulullah telah diperdengungkan ketika awal Rajab. “Allahumma bariklana fi Rajab wa Sya’ban wa Balighna fi Ramadhan”. Hanya untuk menemui bulan penuh sensasi ini. Ramadhan yaa Sahrur Tarbiyah.</p>
<p> Akan tetapi, ada sebuah perbandingan yang wajib kita perhatikan. Bukan antara sesama bulan di tahun Hijriyah. Melainkan perbandingan antar sesama Ramadhan. Yaitu antara Ramadhan sekarang, dengan Ramadhan yang lalu. Antara Ramadhan yang lalu dengan Ramadhan dua tahun yang lalu. Begitu seterusnya. Jika kita mau sadar dan memperhatikan dengan seksama. Kadang kala kita hanya terjebak dalam sekat rutinitas tahunan ini. Memang, kita menganggap bulan ini istimewa ketimbang bulan yang lain. Tetapi apakah bulan Ramadhan kali ini sudah kita persiapkan istimewa menandingi keistimewaan bulan Ramadhan yang pernah kita lalui bersama tahun silam. Apakah Ramadhan sekarang akan kita suguhkan dengan hiasan-hiasan amalan yang belum tentu tahun lalu kita bisa meraihnya.</p>
<p> Itulah motivasi yang terkandung dalam do’a ajaran Rasulullah di atas. Kita sungguh mengharap pertemuan dengan Ramadhan akan kembali terwujud. Iringan pertemuan itu adalah berupa motivasi untuk memperbaiki amalan yang belum sempurna. Motivasi untuk memahat sebuah ukiran prestasi yang mungkin belum sempat kita lakukan pada Ramadhan lalu. Inilah sesungguhnya inti dari proses tarbiyah itu. Ada tujuan sebuah kesempurnaan, ada motivasi untuk merubah ke arah lebih baik dan ada kesungguhan yang tertancap dalam hati seorang insan.</p>
<p> Entah apa yang kita perbuat pada Ramadhan yang lalu. Masing-masing dari kita punya goresan kisah tersendiri. Dan goresan itu kini telah berada pada Sang Pemilik kita, Allah azza wa jala. Namun, goresan Ramadhan berikutnya belum kita torehkan. Masih berupa kertas-kertas putih dalam halaman buku yang sampulnya masih juga tertutup. Kita sekarang sedang memegang pensil-nya. Pensil yang terus-menerus kita tajamkan, kita lancipkan, dan kita kuatkan agar tidak cepat patah. Sehingga ketika sampul buku Ramadhan itu terbuka. Tangan kita telah siap menggoreskan tulisan-tulisan terbaik sepanjang masa. Berbeda dengan yang lalu, lebih indah, lebih cantik dan lebih mempesona.. Allahu Akbar.</p>
<p> Ketika kita baca paragraf terakhir ini. Coba kembali kita alih perhatian kita. Bukan pada episode Ramadhan lalu. Namun pada sekuel Ramadhan berikutnya. Lihatlah waktu..!! Berapa hari lagi.?, Berapa Jam lagi.?, atau berapa menit lagi.?, Selamat membuat goresan terindah di Ramadhan yang baru.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/icalmahdi.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/icalmahdi.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/icalmahdi.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/icalmahdi.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/icalmahdi.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/icalmahdi.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/icalmahdi.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/icalmahdi.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/icalmahdi.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/icalmahdi.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/icalmahdi.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/icalmahdi.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=icalmahdi.wordpress.com&blog=3663503&post=12&subd=icalmahdi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://icalmahdi.wordpress.com/2008/08/21/i-can-do-better/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/666c2301b76fdc6175b21b482f693af1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">icalmahdi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://icalmahdi.files.wordpress.com/2008/08/autumn-leaves1.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>